Disebuah keluarga yang baru menyambut kedatangan anak pertama mereka. Seorang ibu yang baru pertamakali melakukan peran sebagai seorang ibu. Dimana ibu ini selalu ingin tapil layaknya seperti dia masi gadis. Dia tidak ingin ada perubahan di bentuk tubuh, poster tubuhnya.
Akan tetapi keinginan tersebut bertolak belakang
dengan kenyataan dan si ibu pun tidak ingin melakukan perannya sebagai seorang
ibu. Keluarga selalu memberikan masukan pendapat kepada si ibu agar bisa
belajar dan melakukan perannya dengan baik tetapi banyak benturan-benturan yang
terjadi pada dirinya.
Julia : ciluk ba… ciluk.. baaa, dedek tidur dulu
ya, bunda nyanyikan sholawat agar dedek menjadi anak yang saleh.
Terdengar
suara sang ibu solawatan di ruang tengah sang suamipun
menghampiri
istrinya.
Suami : ibu kok
tumben siang-siang begini sholawatan?
Julia : begini lo pak, biar nantinya anak kita
ini menjadi anak yang saleh kalau dia sering mendengar alunan-alunan islami.
Suami : ada-ada
saja tigkah ibu ini
Tiba-tiba
sang bayi mengompol digendongan sang ibu.
Juia : iiiihhhh… dedek jorok, kalau pipis
jangan digendongan ibu, jijik ibu jadinya, malas ah ibu gendong dedek lagi
suami ; ibu keterlaluan sekali, itu anak kita hanya
mengompol saja
Mendengar
suara Julia teriak dengan kencangnya karena anaknya megompol datanglah ibu
mertua.
Mertua : e, e, e ada apa ini kok
rebu-ribut?
Suami ;
ini bu, anak Cuma mengompol saja teriak-teriak tidak karuan.
Julia : Julia jijik bu, nanti tangan
Julia bauk, kuku Julia rusak kalau bersihin pipis dedek, nanti Julia tidak
cantik lagi
Mertua : jangan begitu jul, itu anakmu,
jadi sudah kewajibanmu untuk merawatnya .
Juia ;
ya sudah ibu sajalah yang merawat dia saat mengompol.
Julia menyerahkan bayi yang digendongnya kepada ibu
mertuanya.
Suami : ibu, saya permisi mau rapat di
Balai Desa ya bu, sudah jangan diambil hati sikap Julia itu bu.
Mertua : huff punya menantu kok melawan
Keesokan
harinya sang ibu mertua bingung mau masak apa. Tiba-tiba dengan suara orang
jual sayur.
Tukang sayur :
sayur, sayur, yur sayur
Mertua :
bu, sayur bu
Tukang sayur :
iya bu, mau sayur apa?
Lalu
datang tetangga depan rumah ibu Julia untuk membeli sayur.
Tetangga :
eh ibu, beli sayur bu?
Mertua : iya jeng
Tetangga : ibu, bagaimana dengan menantu ibu?
Dia pintar dan baik ya, saya sering melihat dia menyanyikan lagu-lagu islami
untuk anaknya, dia juga pandai merawat diri setelah melahirkan.
Mertua : kalau soal itu iya bu, tapi dia
itu orangnnya serba jijikan
Tukang
sayur : jijikan bagaimana bu?
Mertua : dia sering teriak – teriak jika
anaknya pipis atau BAB
Tetangga : suruh saja ibu bidan kerumah untuk
memberitahu dan memeriksa keadaan Julia dan bayinya.
Mertua : iya bu, nanti saya kerumah ibu
bidan. Terima kasih ya bu atas sarannya
Siang harinya sang ibu mertua datang kerumaah ibu bida
untuk meminta
ibu
bidan datang kerumahnya untuk memeriksa Julia dan bayinya.
Mertua :
asalamualaikum
Bidan :
waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu bu?
Mertua : begini bu bidan, bisa tidak kalau
ibu datang kerumah menantu saya untuk menasehati serta memeriksa dia dan
bayinya.
Bidan : oh iya bu, bisa. Kapan ibu
maunya
Mertua : kalau ibu tidak sibuk,sekarang
saja bu sekalian serempak dengan saya
Setibanya dirumah Julia, ibu mengatuk pintu.
Mertua : asalamualaikum, jul buka pintu
jul
Julia : waalaikum salam bu, sebentar (juliapun membuka pintu). Eh ada ibu bidan, mari silahkan masuk bu.
Mertua : jul, ini ibu bidan yang akan
memeriksamu dan juga bayimu.
Bidan : iya ibu Julia, saya datang kesini atas permintaan ibu
mertuamu agar memeriksmu juga bayimu.
Bidan pun memeriksa keadaan bayi dan juga keadaan Julia.
Bidan : keadaan ibu baik-baik saja, namun diselakangan adik
bayi ada bentolan yang berisi cairan
Julia : iya bu bidan, ada apa ya dengan anak saya?
Bidan : begini bu, mungkin ibu jarang mengganti pempers bayi
ibu
Mertua : itulah bu bidan, Julia jijik
kalau anaknya ngompol
Bidan : tidak boleh begitu bu Julia, mengganti pakaian bayi
saat dia pipis dan BAB itu adalah kewajiban seorang ibu dan ibu juga tidak
boleh memakaikan pempers setiap hari, kasihan bayinya bu. Di pempers yang sudah
terkena air kencing bayi tersebut banyak mengandung bakteri dan kuman sehingga
dapat menyebabkan bentolan-bentolan yang berisi cairan di selakang anak ibu.
Julia : iya bu bidan
Bidan : iya bu, kalau anak ibu sakit kan kasihan anak ibu dan
ibu juga yang repot. Jadi mulai sekarang ibu tidak boleh lagi merasa jijik saat
anak kita pipis atau BAB.
Julia : iya bu bidan, mulai sekarang saya akan belajar
untuk tidak jijik saat anak saya pipis atau BAB.
Akhirnya setelah mendapat asuhan dari ibu bidan, Julia tidak lagi merasa jijik saat anaknya pipis atau BAB.
Dan juga, Julia dapat merawat dengan baik bayinya. Sehingga bayinya tumbuh menjadi anak yang subur dan
sehat.
Akhirnya setelah mendapat asuhan dari ibu bidan, Julia tidak lagi merasa jijik saat anaknya pipis atau BAB.
Dan juga, Julia dapat merawat dengan baik bayinya. Sehingga bayinya tumbuh menjadi anak yang subur dan
sehat.
Kesimpulan
Seorang ibu yang telah melahirkan juga membutuhkan asuhan
kebidanan untuk membantu seorang wanita agar bisa berhasil berperan sebagai
seorang ibu yang baik. Keberhasilan itu tidak hanya melibatkan proses
fisiologi, tetapi juga psikologis dan emosional yang memotifasi keinginan untuk
menjadi orang tua pada pencapaiannya.
Naskah by : Novi Fatma Sari
Mahasiswi Poltekes Provinsi Bengkulu