Rabu, 12 Desember 2012

NASKAH DRAMA TENTANG TEORI JEAN BALL


            Disebuah keluarga yang baru menyambut kedatangan anak pertama mereka. Seorang ibu yang baru pertamakali melakukan peran sebagai seorang ibu. Dimana ibu ini selalu ingin tapil layaknya seperti dia masi gadis. Dia tidak ingin ada perubahan di bentuk tubuh, poster tubuhnya.
Akan tetapi keinginan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan dan si ibu pun tidak ingin melakukan perannya sebagai seorang ibu. Keluarga selalu memberikan masukan pendapat kepada si ibu agar bisa belajar dan melakukan perannya dengan baik tetapi banyak benturan-benturan yang terjadi pada dirinya.
Julia     : ciluk ba… ciluk.. baaa, dedek tidur dulu ya, bunda nyanyikan sholawat agar dedek menjadi anak yang saleh.

Terdengar suara sang ibu solawatan di ruang tengah sang suamipun
menghampiri istrinya.

Suami  : ibu kok tumben siang-siang begini sholawatan?
Julia     : begini lo pak, biar nantinya anak kita ini menjadi anak yang saleh kalau dia sering mendengar alunan-alunan islami.
Suami  : ada-ada saja tigkah ibu ini

Tiba-tiba sang bayi mengompol digendongan sang ibu.

Juia      : iiiihhhh… dedek jorok, kalau pipis jangan digendongan ibu, jijik ibu jadinya, malas ah ibu gendong dedek lagi
suami   ; ibu keterlaluan sekali, itu anak kita hanya mengompol saja

Mendengar suara Julia teriak dengan kencangnya karena anaknya megompol datanglah ibu mertua.

Mertua             : e, e, e ada apa ini kok rebu-ribut?
Suami              ; ini bu, anak Cuma mengompol saja teriak-teriak tidak karuan.
Julia                 : Julia jijik bu, nanti tangan Julia bauk, kuku Julia rusak kalau bersihin pipis dedek, nanti Julia tidak cantik lagi
Mertua             : jangan begitu jul, itu anakmu, jadi sudah kewajibanmu untuk merawatnya .
 Juia                 ; ya sudah ibu sajalah yang merawat dia saat mengompol.

Julia menyerahkan bayi yang digendongnya kepada ibu mertuanya.

Suami              : ibu, saya permisi mau rapat di Balai Desa ya bu, sudah jangan diambil hati sikap Julia itu bu.
Mertua             : huff punya menantu kok melawan

Keesokan harinya sang ibu mertua bingung mau masak apa. Tiba-tiba dengan suara orang jual sayur.

Tukang sayur   : sayur, sayur, yur sayur
Mertua             : bu, sayur bu
Tukang sayur   : iya bu, mau sayur apa?

Lalu datang tetangga depan rumah ibu Julia untuk membeli sayur.

Tetangga         : eh ibu, beli sayur bu?
Mertua             : iya jeng
Tetangga         : ibu, bagaimana dengan menantu ibu? Dia pintar dan baik ya, saya sering melihat dia menyanyikan lagu-lagu islami untuk anaknya, dia juga pandai merawat diri setelah melahirkan.
Mertua             : kalau soal itu iya bu, tapi dia itu orangnnya serba jijikan
Tukang sayur : jijikan bagaimana bu?
Mertua             : dia sering teriak – teriak jika anaknya pipis atau BAB
Tetangga         : suruh saja ibu bidan kerumah untuk memberitahu dan memeriksa keadaan Julia dan bayinya.
Mertua             : iya bu, nanti saya kerumah ibu bidan. Terima kasih ya bu atas sarannya

Siang harinya sang ibu mertua datang kerumaah ibu bida untuk meminta
ibu bidan datang kerumahnya untuk memeriksa Julia dan bayinya.

Mertua : asalamualaikum
Bidan              : waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu bu?
Mertua             : begini bu bidan, bisa tidak kalau ibu datang kerumah menantu saya untuk menasehati serta memeriksa dia dan bayinya.
Bidan              : oh iya bu, bisa. Kapan ibu maunya
Mertua             : kalau ibu tidak sibuk,sekarang saja bu sekalian serempak dengan saya

Setibanya dirumah Julia, ibu mengatuk pintu.

Mertua             : asalamualaikum, jul buka pintu jul
Julia                 : waalaikum salam bu, sebentar (juliapun membuka pintu). Eh ada ibu bidan, mari silahkan masuk bu.
Mertua             : jul, ini ibu bidan yang akan memeriksamu dan juga bayimu.
Bidan              : iya ibu Julia, saya datang kesini atas permintaan ibu mertuamu agar memeriksmu juga bayimu.

Bidan pun memeriksa keadaan bayi dan juga keadaan Julia.

Bidan              : keadaan ibu baik-baik saja, namun diselakangan adik bayi ada bentolan yang berisi cairan
Julia                 : iya bu bidan, ada apa ya dengan anak saya?
Bidan              : begini bu, mungkin ibu jarang mengganti pempers bayi ibu
Mertua             : itulah bu bidan, Julia jijik kalau anaknya ngompol
Bidan          : tidak boleh begitu bu Julia, mengganti pakaian bayi saat dia pipis dan BAB itu adalah kewajiban seorang ibu dan ibu juga tidak boleh memakaikan pempers setiap hari, kasihan bayinya bu. Di pempers yang sudah terkena air kencing bayi tersebut banyak mengandung bakteri dan kuman sehingga dapat menyebabkan bentolan-bentolan yang berisi cairan di selakang anak ibu.
Julia                 : iya bu bidan
Bidan            : iya bu, kalau anak ibu sakit kan kasihan anak ibu dan ibu juga yang repot. Jadi mulai sekarang ibu tidak boleh lagi merasa jijik saat anak kita pipis atau BAB.
Julia             : iya bu bidan, mulai sekarang saya akan belajar untuk tidak jijik saat anak saya pipis atau BAB.

 Akhirnya setelah mendapat asuhan dari ibu bidan, Julia tidak lagi merasa jijik saat anaknya pipis atau BAB.
Dan juga, Julia dapat merawat dengan baik bayinya. Sehingga bayinya tumbuh menjadi anak yang subur dan
sehat.


Kesimpulan
            Seorang ibu yang telah melahirkan juga membutuhkan asuhan kebidanan untuk membantu seorang wanita agar bisa berhasil berperan sebagai seorang ibu yang baik. Keberhasilan itu tidak hanya melibatkan proses fisiologi, tetapi juga psikologis dan emosional yang memotifasi keinginan untuk menjadi orang tua pada pencapaiannya. 

Naskah by : Novi Fatma Sari
Mahasiswi Poltekes Provinsi Bengkulu